NARASI BESAR FILSAFAT
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Pendidikan Prodi PEP Kelas B
Refleksi Pertemuan Ke 3 pada Rabu, 11
Oktober 2017
Oleh: Dyah Ayu Fitriana
Pada awal
pembelajaran, digambarkan sebuah garis dengan ujung bertuliskan awal dan akhir
yang digambarkan dengan kapal dan ikan-ikan. Di dekat tulisan akhir terdapat
dunia kontemporer atau kekinian atau Power
Now atau Post Modern. Filsafat itu
tidak di akhir tapi berada di dunia modern terletak di tengah-tengah. Modern terjadi
pada tahun 1671 yang ditandai oleh fisul Immanuel Kant.
Filsafat itu
modus atau narasi besar oleh para filsuf. Filsafat dimulai dari kapitalisme. Semua
berakhiran “isme”, isme itu adalah pusatnya. Maka dari itu “berhati-hatilah dengan filsafat, karena
filsafat itu adalah pusatnya”. Contohnya, Humanisme mengandung makna berpusat pada manusia. Mana Tuhanmu?
Sedangkan,
Lima aliran filsafat yaitu Kapitalisme
mengandung makna bangunan kapital. Materialisme
mengandung makna berpusat pada materi. Pragmatisme
mengandung makna yang menghasilkan dan menguntungkan, jalan pintas. Utilisme mengandung makna asas manfaat. Liberalisme mengandung makna berpusat
pada liberal. Semua itu terbungkus pada Pos
Modernisasi.
Sekarang, kita
hidup di akhir yang digambarkan dengan ikan-ikan di laut. Kita adalah
orang-orang terpilih agar mendapatkan kesempatan untuk belajar filsafat.
Filsafat adalah aliran air yang jernih. Setidaknya ikan masih bisa bernafas,
membedakan, dan memilih diantara air jernih dan air keruh. Sifat lokal kita
namanya Disorientasi atau kebingungan atau kekacauan. Bingung mana yang benar
dan salah. Karena, sebanar-benarnya dunia adalah bahasa. Siapa dirimu? Dirimu adalah
bahasamu, tulisanmu, kata-katamu. Filsafat sampai akhir jaman adalah filsafat
analitik atau filsafat bahasa atau filsafat teknologi. Sebenar-benar rumahkua
dalah bahasaku, maka dunia ini adalah bahasa.
Terdapat filsafat
kritis dan filsafat alam yang sudah ditulis pada gambar diatas. Pada tahun 2000
SM, yang dianut adalah filsafat alam. Karena, pada masa itu orang masih
berpikir langit itu terbuat dari apa, bumi terbuat dari apa, alam semesta
terbuat dari apa, apakah dari tanah, air, api, dan angin? Terdapat pula
filsafat fikir atau rasionalisme, ada juga empirisme, kritisisme, bahasaisme. Setelah
itu ada juga metafisik yang dimana ingin mengunkap disebalik yang fisik,
terdengar, terlihat, tindakan, pujian, kritikan, dan seterusnya. Maka segala
macam isme munculnya dari obyek pikiran. Kemudian yang tunggal atau mono atau
monoaisme atau disingkat monisme. Segala sesuatu yang satu hanyalah kuasa
Tuhan. Benar itu banyak, pluralisme. Maka ini batas imajiner yaitu batas antara
langit dan bumi atau antara ide dan kenyataan (real) atau idealisme dan
realisme. Maka yang paling tinggi adalah spiritualisme sedangkan yang paling
bawah berbentuk materialisme. Sejak awal jaman materialisme sudah ada. Dalam perjalananya
nanti maka berhati-hati pada seuatu yang didasari dari materi. Belajar filsafat
harus dibarengi dengan doa yang diimbangi dengan ritual ikhlas.
Dari makna
isme, muncul hukum identitas A = A dan hukum kontradiksi A ≠ A (dibaca “aku
tidaklah mampu menunjuk diriku sendiri ketika aku belum selesai menunjuk aku
sudah berubah dari tadi”) kenapa? Karena terikat oleh ruang dan waktu. Maka sama
dengan 2 ≠ 2 (di gamabr diatas ditulis 2 dengan ukuran font besar dan 2 lainnya dengan ukuran font kecil). Maka 2 = 2 hanya benar di dalam pikiran, matematikapun
begitu. Inilah yang disebut kenyataan atau plural, termasuk diriku. “Yang
mampu menjadi dirinya sendiri adalah Tuhan, sedangkan ciptaannya terikat oleh
ruang dan waktu”
Pikiran itu
logika yang bersifat identitas yang terdiri dari definisi, aksioma, teorema dan
lainnya yang penting konsisten yaitu logis yang bersifat analitik. Dan kenyataan
bersifat sintetik. Analitik pasangannya dengan apriori, sedangkan sintetik
pasangannya aposteriori. Matematika itu yang penting logis tanpa perlu melihat
kenyataan. Sebenar-benar kenyataan adalah kontradiksi. Kontradiksi filsafat
berbeda dengan matematika. Kontradiksi dari filsafat bukan identitas, sedangkan
matematika tidak konsisten. Tokoh selanjutnya adalah Plato dan aristoteles. Bagi
plato, semua sudah ada, hanya manusia belum bisa menemukan. Maka matematikapun
sudah lengkap, tinggal manusia mengembangkan. Pikiran ini dewasa sampai
spiritual, tetapi terdapat dunia anak-anak. Dunia dewasa adalah dunia kenyataan
atau apriori. Apriori itu paham
sebelum melihat, mendengar, menyentuh, dan sebagainya. Dunia anak-anak adalah
dunia aposteriori, paham setelah
melihat, mendengar, dan lain sebagainya.
Ilmu menurut Immanuel
Kant adalah gabungan dari langit dan bumi. Empirisme tokohnya adalah D. Hume,
karena tiadalah ilmu tanpa pengalaman. Sedangkan Rasionalisme tokohnya adalah Renesdescates,
karena tiadalah ilmu tanpa logika. Maka dari itu Immanuel Kant datang
ditengah-tengah kedua tokoh tersebut. “Sebenar-benar
ilmu adalah sinteteik apriori”, menurut Immanuel Kant. Yang berada paling
diatas adalah idealisme menuju absolutisme. Maka di dunia ini adalah bayangan,
yang diatas adalah prinsip atau aturan. Aturan yang bersifat absolutisme adalah
kuasa Tuhan.
Sebelum zaman
modern terdapat zaman kegelapan yaitu dominasi gereja. Pada abad 13, tidak
boleh satu orangpun yang berhak mengutarakan kebeneran tanpa restu dari pihak
gereja. Jika menolak bisa dikejar, diburu, bahkan dibunuh. Pada saat itu ada
prinsip geosentris, konon semua berpusat pada bumi. Ada tokoh yang bernama
Copernicus yang membantah itu semua dan menyebutkan teori Heliocentris, bahwa
pusant itu adalah matahari bukan bumi.
Setelah itu
munculah zaman modern sebagai kelanjutan dari revolusi Copernicus. Sampai sekarang
muncul scientifik. Tokohnya adalah
August Comte pada tahun 1857 “Dunia itu
harus dibangun dan agama tidak cocok, karena agama tidak logis”. Tatanannya
menjadi seperti ini, agama berada paling bawah, keatas filsafat, positifisme
atau saintifik. Saintifik yang diterapkan pada saat sekarang sama saja
mengacuhkan agama. Ini semua sudah diramal oleh Resi Gutawa (Cerita wayang). Dalam cerita itu, digambarkan suatu
akibat dari perkembangan sebuah teknologi yang benar-benar terjadi pada zaman
sekarang. August Comte hingga sekarang membawa teori Power Now yang sudah menguasai dunia.

Comments
Post a Comment