Skip to main content

HERMENEUTIKA

HERMENEUTIKA
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pendidikan Prodi PEP Kelas B
Refleksi Pertemuan Ke 9 pada Rabu, 22 November 2017
Oleh: Dyah Ayu Fitriana

Pada pertemuan ke-9 Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. di  hari Rabu tanggal 22 November 2017 pukul 11.10 s.d. 12.50 di ruang 200B Gudung lama Pascasarjana. Beliau memulai pertemuannya dengan berdoa yang serius bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Agama Islam membaca surat Al Fatihah dan yang lain menyesuaikan.
Berbeda dengan biasanya, Pak Marsigit ingin menggunakan strategi pembelajaran Ekspositori dengan berbantuan PPt yang sudah di upload di uny.acdemia.edu/MarsigtiHrd dan materi itu pun juga dapat diakses oleh seluruh mahasiswa yang ingin mempelajari lebih dalam.
Hermeneutika artinya adalah terjemah dan terjemahan, maka dalam filsafat, pikiran para filsuf lah yang harus kita terjemahkan. Jika niat nya dinaikkan, maka menjadi bentuk silaturrahim kita dengan mereka, jika diturunkan ke dalam proses PBM maka menjadi interaksi belajar mengajar. Sebenar-benar hermeneutika adalah kehidupan ku sendiri. Garis spiral menunjukkan pertemuan yang akan terus berulang meski diwaktu yang berbeda, dan garis lurus mengartikan bahwa kita tidak mampu mengulangi kembali waktu yang sudah berlalu pada jam dan tempat yang sama. Sedangkan spiral itu sendiri artinya peduli terhadap ruang dan waktu. jika yang diam itulah sebenar-benar mitos, maka sebenar-benar hidup adalah logos. Asalkan beda ruang dan beda waktu, itulah berhermenetika. Setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat berhermenetika. Maka sebenar-benar hidup adalah hermenetika antara wadah dan isi.
Hermeneutika terjadi pada siapapun dan kapanpun. Hermenetika antara diriku dan bukan diriku, antara murid dengan guru, antara mata dengan obyek, antara telingan dengan suara, antara suami dengan istri, antara kakak dan adik. Itu semua adalah ontologis, tetapi tidak disadari oleh sebagian besar orang. Jika di brigh down setiap lingkaran yang ditarik keluar dalam bentuk spiral titik-titik itu akan menjadi tiga macam fenomena : rutin (gambar yang paling datar bagian atas), mengembang/membangun (gambar besar di tengah), dan meruncing/santifik (gambar yang paling kecil bagian bawah).
Yang terjadi di negara kita adalah pengimplementasian kurikulum 2013 yang adalah hanya meruncing saja atau metode santifik, tidak membicarakan yang rutin, padahal yang rutin adalah psikologis dan filsafatnya analitik dan spiritualnya adalah barokah. Pada fenomena bagian tengah paling besar yaitu membangun, maka sebenar-benar hidup adalah membangun, membangun yang ada dan yang mungkin ada. Apapaun yang membangun bisa dilakukan, contohnya membangun keluarga, membangun kepercayaan, membangun rumah, membangun bisnis. Dikarenakan kita sebagai manusia memiliki keterbatasan, apalagi sudah punya motiv, apalagi hidup parsial, pengalamannya kurang banyak, maka dikatakan kontraktivis, atau bahasa jawanya cokro manggilingan. Cokro memiliki arti melingkar, sedangkan Manggilingan memiliki arti berjalan, sehingga cokro manggilingan memiliki makna lingkaran yang berjalan. Hidup itu cokro manggilingan, kadang di bawah kadang di atas. Hanya dengan ilmu saja orang bisa memanipulasi pengalaman, walupun berjalan maunya tetap di atas saja, karena menggunakan ilmu dan latihan.
Bidang datar tetapi menggambakan dimensi tiga. Adanya gunung, jika anda lihat ada struktunya dari bawah ke atas,  semakin ke atas semakin lembut, jika di bawah semakin kasar (dunia nyata). Agar seseorang bisa menaiki gunung, pasti melalui perantara dan memiliki kemampuan. Engkau adalah gunungnya dari semua sifat mu. Jika di dalam akademik diantara S1, S2, S3, doktor, dan profesor, yang menjadi gunung adalah profesor.


Comments

Popular posts from this blog

Konversi Tahun pada Turbo Pascal

Script Program Selamat mencoba :)