Skip to main content

PUPPET SHADOWS PLAY

PUPPET SHADOWS PLAY
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Pendidikan Prodi PEP Kelas B
Refleksi Tugas “Nonton Wayang di Sonobudoyo”
Oleh: Dyah Ayu Fitriana

Senin, 27 Desember 2017 Pukul 20.00-22.00 WIB di Pendopo Musium Sonobudoyo (Jl. Trikora No. 6 Yogyakarta). Cuaca saat itu sedikit tidak mendukung untuk kami mahasiswa PEP Kelas B menonton wayang, tapi kita tetap berangkat “kalau tidak sekarang mau kapan lagi? Mumpung banyak teman sekelas yang nonton wayang bareng”. Ini pertama kali saya menonton wayang di Musium Sonobudoyo (sebelumnya juga pernah nonton wayang di Jogja tetapi di alun-alun selatan). Pertama masuk pendopo, sungguh diluar bayanganku. “bule” banyak datang utuk nonton wayang juga seperti halnya kami. Selain itu pula, rombongan study tour (lupa asalnya darimana) juga nonton wayang dengan antusiasnya.
Seperangkat wayang yang sudah siap untuk dimainkan oleh seorang dalang, seperangkat alat gamelan yang juga sudah siap dimainkan oleh sekelompok pemusik jawa, dan ada dua sinden yang dengan cantiknya siap untuk menambang langgam jawa. Semua orang yang sudah siap diatas panggung (tinggi panggung tidak terlalu tinggi, kurang lebih 30cm) dengan baju adat jawa lengkap (blangkon, kebaya, konde, keris, dan lain sebagainya) turut menambah etik dan estetika nonton wayang ini. Dengan latar belakang pangkung berupa layar putih dan gedebog yang disertai sorotan lampu pijar berwarna kuning. Ciri khas pertunjukan wayang ini selalu ada dimanapun wayang itu dibawakan.
Tatanan gamelan yang berapa dibelakang dalang dengan rapinya, menyambut kita ketika baru masuk pendopo. Peralatan gamelan yang lengkap seperti gong, bonang, gendang, dan lainnya dimainkan oleh lebih dari 5 orang. Saat masuk, kita diberi selebaran tentang gambaran pertunjukan dalam bahasa Inggris (karena bule sering nonton wayang di sini). Ada 8 episode yang tertera di selebaran tersebut. Setiap episode dimainkan setipa hari, 8 hari untuk menyelesaikan episode tersebut. Nah kali ini kami melihat episode 2 yaitu tentang misi hanoman.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------            

2nd episode
Scene 1: Pancawati Kingdom – The Country of the apes
Character: Rama, Laksmana, King Sugriwa, Anggada and Hanoman – Sugrowa’s nephew
Rama tells Sugriwa that he wants to know what Shinta is doing to Alengka and asks him for help. Sugriwa decides that Hanoman will carry out this mission and send him to Alengka right away.

Scene 2: Argasoka garden in Alengka
Character: Shinta and Trijatha
Trijatha is consoling Shinta who is troubled very much by Rahwana persuading her constantly to maryy him (Shinta never gives in though). Suddenly, Hanoman comes and tells Shinta that he is sent by Rama. Having done this, Hanoman leaves, destroying the garden. Unfortunately, he is captured by Indrajit who immediately has him burnt. However Hanoman is not hurt by the fire. Using it, he sets Rahwana’s palcae ablaze. Then Hanoman return to Pancawati safe and sound.

 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari episode 2 yang kami lihat, etik dan estetika yang dapat kami ambil dari nonton wayang bareng ini adalah tentang usaha, perjuangan, kesetiaan dan ketulusan dalam melaksanakan suatu amanat (Misi Hanoman) untuk mencari Shinta yang diperintahkan oleh Rama. Pertunjukan yang dibawa dengan menggunakan bahasa Jawa krama inggil dengan langgam jawa. Puppet Shadows Play memiliki makna pertunjukan bayangan wayang. Ya karna kita melihat dibelakang panggung tepat berhadapan dengan dalang. Dengan haya melihat bayangan wayang yang berasal dari pantulan sinar lampu pijar yang disorotkan di layar putih. Pertunjukan tersebut dapat dilihat dari layar depan maupun layar belakang. Dari layar belakang, kita menikmati pertunjukan wayang melalui bayangan yang diiringi musik gamelan. Sebaliknya, jika kita menikmati dari depan, wayang yang dimainkan oleh dalan itu terlihat berwarna dengan warna asli dari berbagai tokoh wayang dan kita dapat menikmati atau melihat pemain musik jawa memainkan seperangkat gamelan secara langsung.

 Antusias penonton yang banyak (kurang lebih 30 orang) yang sudah hadir di pendopo untuk nonton wayang. Yang saya pikirkan, “saya orang jawa tetapi tidak paham dengan apa yang dibicarakan seorang dalang dalam memainkan wayang, apalagi dengan bule?” ya mereka hanya menikmati kecantikan pertunjukan asli adat Jawa Indonesia. Mungkin saya kalah antusianya dengan bule, banyak bule yang datang ke Jogja untuk memperdalam seni tersebut (belajar bahasanya, budayanya, dan keseniannya). Sedangkan saya? (sebagai refeksi diri).

Comments

Popular posts from this blog

Konversi Tahun pada Turbo Pascal

Script Program Selamat mencoba :)